Rabu, 23 Juli 2008

KOMIK DI SEKOLAH

PERLUKAH KOMIK
JADI BAHAN PENGAJARAN
DI SEKOLAH?


Oleh : *Ahmad Suyudi


Gagasan Dr. Sapardi Djoko Damono, mengenai adanya kemungkinan komik diajarkan di sekolah tampaknya akan semakin menarik untuk diperbincangkan. Agaknya tidak hanya para guru di sekolah dan orang tua yang dalam hal ini secara langsung maupun tidak, akan menanggung akibat dari kemungkinan timbulnya persoalan baru, jika kelak gagasan itu benar-benar akan terwujud. Orang-orang di kalangan dunia sastra juga akan menanggung akibatnya.

Di dalam Munas III dan Pertemuan Ilmiah Nasional IV Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia di Yogyakarta, Sapardi mengemukakan, komik mempunayi kemungkinan peluang untuk diajarkan di sekolah karena komik seringkali mengungkapkan mentalitas masyarakat. Dia juga melihat kemungkinan dipergunakannya bacaan cerita bergambar ini sebagai bahan pengajaran untuk pendidikan sekolah dasar sampai tingkat menengah atas.
Terlepas dari komik macam apa yang memiliki kemungkinan seperti digagaskan itu, akan muncul persoalan baru yang tampaknya tidak bisa begitu saja dipandang remeh. Memang setiap kali muncul suatu gagasan baru seperti ini pasti akan membawa konsekuensi timbulnya pengaruh positif – negatif yang tak mungkin terelakkan.




Sosialisasi Sastra Terseok-seok

Persoalan yang kemungkinan sekali harus dihadapi terutama bagi dunia sastra yakni dirasakan munculnya tantangan atau tandingan baru yang bisa saja menghambat jalannya proses sosialisasi sastra. Kita mengetahui bahwa pemasyarakatan karya-karya sastra yang memiliki satu-satunya jalan terbaik dan efektif melalui jalur pendidikan di sekolah, hingga saat ini belum lagi membawa hasil yang memuaskan.

Terlalu banyak persoalan yang harus dihadapi bagi pemasyarakatan sastra di sekolah. Mulai dari kekurangmampuan guru-guru bahasa dan sastra Indonesia dalam menyampaikan pengajaran apresiasi sastra kepada siswa, sehingga sering dianggap sebagai kambinghitam kegagalan proses sosialisasi sastra di sekolah, rendahnya budaya minat baca para pelajar kita terhadap karya sastra, terlalu mahalnya harga buku kita bagi masyarakat, sampai kepada masalah rumitnya memahami bacaan sastra yang tidak jarang justru membuat para siswa lari ke bentuk bacaan lain seperti buku-buku sastra populer termasuk di dalamnya komik!
Maka dapat diduga kelak akan semakin terpuruklah nasib proses sosialisasi sastra melalui jalur pendidikan sekolah apabila komik juga menjadi bahan ajar di sekolah.


Bukan tidak mungkin komik akan menjadi saingan terbesar bagi bacaan sastra. Sekarang ini saja kita tidak dapat memungkiri kenyataan bahwa anak-anak lebih cenderung memilih komik sebagai bahan bacaan, meskipun tidak jarang guru atau orangtua melarang dan mencegah mereka. Kenyataannya komik sebagai bahan bacaan ringan yang mudah dicerna memang lebih memiliki daya tarik ketimbang karya sastra yang sering mereka anggap berat dan terlalu rumit untuk dipahami.


Persoalan lain yang tak kalah pentingnya dan harus dipikirkan sejak sekarang adalah bakal munculnya tugas baru bagi guru-guru di sekolah. Mereka tentu harus bekerja ekstra memberi pengawasan bagi setiap bacaan jenis komik yang akan dibaca oleh siswa-siswanya. Betapa repotnya tugas ini harus dijalankan oleh para pendidik di sela-sela sulitnya mengatur jam-jam pelajaran pokok yang sering dikeluhkan, karena sempitnyawaktu akibat terlalu padatnya materi pelajaran yang harus disampaikan.


Persoalan waktu ini pula yang sering disebut-sebut sebagai salah satu penyebab kegagalan pengajaran sastra di sekolah. Pengajaran sastra di sekolah hanya memperoleh alokasi waktu yang sangat kecil, di samping hanya merupakan bagian dari satu unit yang di-dompleng-kan di dalam pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Maka betapa repotnya nanti jika benar-benar komik disetujui bakan menjadi bahan ajar di sekolah.


Pendorong Minat Baca


Pernyataan Rahayu Hidayat, ketua tim pengkajian komik dari Universitas Indonesia, yang menyetujui kalau komik bisa saja dipergunakan sebagai bahan bacaan di perpustakan sekolah, cukup baik. Harus diakui memang bahwa jenis bacaan ini memiliki potensi sangat besar untuk pendorong bagi timbulnya minat baca pada anak-anak. Terlepas dari besar kecilnya kapasitas pengetahuan yang terkandung di dalamnya komik bersama-sama genre bacaan populer lainnya seperti novel/roman remaja, novel misteri, novel-novel silat (cerita silat/cersil), dan sebagainya telah memberi kontribusi sangat besar sebagai stimuli munculnya minat baca pada anak-anak.


Bayangkan, kalau komik seperti Kungfu Boy, Dragon Ball, Conan, Mary-Chan, Seven Magic, Saint Seiya, dan lain sebagainya, konon terjual laris hingga puluhan ribu eksemplar setiap judul episodenya.Hal serupa juga dialami oleh jenis bacaan populer dalam genre novel-novel/roman berisi cerita silat atau cersil. Meskipun tirasnya tidaklah se-fantastis komik anak-anak itu, frekuensi dan rutinitas terbitnya yang bisa satu minggu sekali, mampu menjamah pembaca yang tidak sedikit jumlahnya.


Sebuah penerbit buku di Jakarta yang memiliki motto Penerbit Buku Silat Bermutu misalnya, setiap minggu mampu menerbitkan tidak kurang dari lima judul episode novel silat. Dan dari setiap judul jumlah tirasnya mencapai sepuluh hingga limabelas ribu eksemplar. Padahal berjumlah belasan penerbit semacam itu ada di Indonesia. Di Jakarta saja ada beberapa penerbit buku picisan semacam itu seperti: Alam Budaya, Penerbit Cinta Media, Rosita, Nur Agency, Gultom, Sanjaya, dan, Lokajaya Agency. Puluhan ribu eksemplar setiap minggu berhasil mereka cetak dan terbitkan buku novel cerita silat seperti Pendekar Rajawali Sakti, Pendekar Pulau Neraka )karya Teguh S.), Dewa Arak (karya Ajisaka), Pendekar Naga Putih (karya T. Hidayat), Pendekar Gila (karya F. Rahardja), Wiro Sableng (karya Bastian Tito), Pendekar Slebor (karya Pijar EL) dan lain-lain. Belum lagi cerita silat yang diterbitkan oleh penerbit besar seperti Novel bersambung berjudul Musashi, Senopati Pamungkas, ditambah lagi cersil-cersil yang sudah melegenda seperti karya-karya Kho Ping Ho, dan SH Mintaredja, baik silat Jawa maupun yang bersetting Tiongkok.


Buku-buku silat terjemahan dan saduran juga semarak memberi warna pada dunia penerbitan buku-buku populer. Karya-karya cerita bernafas panjang dalam bentuk cerita-cerita bersambung karya Khu Lung, Cin Yung, dan Liang Yusheng sduah tidak asing lagi bagi para penggemar cersil.


Perhitungan secara kasar saja, apabila setiap penerbit menerbitkan rata-rata lima judul/episode dalam setiap minggunya, dan setiap judulnya rata-rata terbit limaribu eksemplar, maka setiap minggu beredar ratusan ribu eksemplar buku-buku cerita silat. Fantastis ! Belum lagi ditambah dengan jenis-jenis novel populer lain seperti novel misteri/horor, detektif, dan roman/nover percintaan, baik karya-karya penulis lokal maupun terjemahan dari luar negeri. Kesemuanya memperkaya khasanah perbukuan dan menjadi ’makanan’ bagi ratusan ribu pembaca di Indonesia.


Kondisi semacam inilah rupanya yang tidak pernah dialami oleh penerbitan buku-buku sastra. Maka tidak mengherankan jika anak-anak dan para remaja kita temukan mereka lebih akrab dengan jenis bacaan populer, termasuk komik. Di samping kemasan dan harganya yang terjangkau, buku-buku popluer lebih mudah dicerna karena para pengarang biasanya menyajikan dengan gaya bahasa yang ringan, sederhana dan tidak rumit/jlimet. Namun dari semua gambaran realitas bacaan populer termasuk komik di dalamnya, yang paling penting seperti diungkapkan oleh Dr. Sapardi Djoko Damono, bahwa cerita-cerita di dalam komik seringkali mengungkapkan mentalitas masyarakat dengan gaya bacaan yang nge-pop!